Bab 5 : Jetro, Violet, Jagor dan Sebuah Misi


Jalan lurus di depan Neo terus menurun. Neo serasa terdorong ke depan mengikuti bayangannya yang telah memanjang di aspal yang curam. Dia sedikit membayangkan susahnya orang berjalan balik ke atas. Di kanan kiri Neo hanya pohon-pohon besar yang semakin jauh terlihat semakin rapat dan gelap.

Ibu di colt itu benar. Setelah jalan mendatar, arahnya berbelok ke kiri. Neo tetap melangkah lurus. Hingga di ujung aspal dia temukan jalan setapak yang melewati batang-batang pohon. Cahaya redup saat Neo menapaki jalur sempit tanah tak berumput itu. Rimbun daun begitu rapat di atas. Sekilas Neo lihat seekor ular melintas di antara cabang-cabang.

Selang beberapa menit, jembatan gantung terlihat di depan. Jembatan itu sesempit jalan setapak. Alasnya jajaran papan yang hanya diikat tambang. Saat melewatinya Neo sedikit was-was. Jembatan bergoyang setiap kali dia melangkah. Neo mengeratkan tangannya pada tali pegangan. Lima meter di bawah, arus sungai begitu deras melewati batu-batu besar. Neo menetapkan tekadnya untuk sampai ke ujung karena dia yakin tujuannya tak jauh lagi dari situ.

Setelah jembatan gantung, jalan setapak memasuki jajaran pohon yang lebih lebat. Remang pun semakin pekat. Beberapa kali Neo melihat ular di pohon-pohon itu. Ada yang yang menjalar, ada yang diam. Seperti saran ibu di colt itu, Neo berusaha tak menghiraukan. Dia berharap ular-ular itu tak muncul di depannya.

Cahaya mulai terang saat Neo sampai di ujung jalan setapak. Di depannya terbentang padang rumput. Neo menjejakkan kakinya di rumput setinggi lutut, meninggalkan pohon-pohon besar di belakang. Langkahnya makin cepat karena di tengah padang rumput itu berdiri tembok tinggi yang membentang panjang. Seperti tembok pagar Paranormal Academy di Jakarta.

Walau ujung langit telah memerah, masih terlihat di tengah tembok panjang itu sebuah pintu gerbang. Neo mengarahkan langkah ke sana. Tapi baru beberapa detik berjalan, tiba-tiba dia merasa ada orang di belakang. Neo pun berbalik. Dan tak jauh darinya seseorang sedang berdiri. Anak laki-laki seumurannya, memakai kaca mata hitam, senyumnya tersungging. Untuk beberapa saat Neo tertegun karena dia tak tahu dari mana  munculnya anak yang hanya berdiri dengan melipat tangan di dada.



“Sori, namaku Jetro.” Anak itu pun mengulurkan tangan.

“Borneo.” Agak ragu Neo membalas.

“Kamu mau sekolah di Paranormal Academy,” tanya anak itu.

“Ya,” jawab Neo polos sembari memandangi anak di depannya. Rambutnya lurus. Belakangnya pendek, depannya panjang tergerai angin menutup dahi. Dia memakai kemeja putih dengan dasi hitam. Bibirnya masih cengar cengir.

“Dari mana kamu tahu sekolah ini?” Tanya anak itu lagi.

“Ada orang misterius kasih pesan di surat.” Neo menjawab apa adanya sembari mengeluarkan lipatan kertas dari sakunya.

Anak itu jadi serius dan membaca kertas yang diberikan Neo. Lalu dia pandangi Neo seksama.

“Orangnya kayak gimana?”

“Aku nggak lihat jelas, baju sama celananya warna putih, pakai sandal, rambutnya banyak ubannya.”

Anak itu pun melipat kertas di tangannya lalu mengembalikan ke Neo. Seperti dia sudah tahu orang yang diceritakan Neo.

“Kamu dari mana?”

“Dari Jakarta.”

“Dari Jakarta nggak bawa apa-apa?”

“Ranselku tadi dirampas di bis.”

“Di daerah kumuh sebelum Tanah Hitam?”

“Iya, banyak rumah kumuh di sana.”

“Daerah itu memang nggak aman dari dulu.”

Lalu anak itu memandangi tembok panjang di tengah padang rumput.

“Sekolah udah jalan tiga bulan disini. Tapi nggak masalah, sekolah ini nggak seperti sekolah yang lain. Kamu bisa daftar hari Senin. Besok libur hari Minggu.” Anak itu mulai cengar-cengir lagi.

“Kamu sekolah disini?” Tanya Neo.

“Iya, aku pindahan dari Jakarta International Paranormal Academy.”

Neo masih memandangi anak yang di matanya lucu tapi arogan. Sebenarnya dia ingin banyak menanyakan sesuatu tapi anak itu sudah mengulurkan tangan.

“Ayo, aku temukan kamu sama temenku. Kalau ada dia, kamu nggak usah khawatir urusan administrasi dan tetek bengek sekolah. Pegang tanganku!”

Neo tak tahu maksud anak itu. Tapi dia tak punya pilihan. Hanya anak itu yang dia temui di tempat seperti ini. Dan hari bertambah gelap. Neo pun mengulurkan tangan. Anak itu mengeratkan genggamannya saat menjabat tangan Neo.

“Siap?” Anak itu nyengir.

Belum terpikir untuk menjawab, tiba-tiba Neo merasa terseret ke suatu tempat yang tak begitu jelas dia melihatnya karena sekelilingnya serasa bergerak begitu cepat. Dan saat Neo bisa melihat jelas, dia tidak di padang rumput itu lagi. Padang rumput itu sudah tidak ada. Di depan Neo kini sebuah ruang besar. Neo berada di dalam hall. Tempat olah raga seperti di sekolahnya. Tapi ini lebih besar. Di tengahnya ada lapangan basket. Dan seorang anak perempuan ada di sana sedang berputar-putar dengan sepatu roda. Rambutnya lurus, panjang sepunggung. Poninya rata di dahi. Baju lengan panjang dan rok sebetisnya warna hitam. Tampaknya dia belum sadar, Neo dan anak berkaca mata hitam ada di situ.

“Namanya violet. Dia bisa meramal masa depanmu kalau kau mau.” Senyum anak berkaca mata hitam melebar sembari mengajak Neo mengikutinya.

Suara langkah-langkah membuat anak perempuan itu sadar ada orang lain di situ.

“Jet? Kamu pakai teleport?” Anak perempuan itu berhenti mengayuh sepatu rodanya. Mukanya kesal pada anak yang dipanggilnya Jet.

“Tenang, jaraknya deket. Lagian biar cepet.” Anak berkaca mata hitam berlagak tenang.

“Bukannya sudah aku kasih kunci gerbang samping? Kalau sampai guru tahu kamu pakai teleport, masalahnya bisa ribet.”

“Tenang Vio… Percaya deh, aku tahu apa yang kulakukan. Nih tamu kita yang kamu ramalkan datang hari ini udah hadir.”

Dengan sisa kesal di wajahnya, anak perempuan itu memandang Neo seksama. Dia melihat anak laki-laki lusuh, memakai kaos hitam dan jean belel. Sepatu kets-nya tidak putih lagi. Lalu sekali kayuh, anak perempuan itu meluncur mendekati Neo.

“Violet.” Dia mengulurkan tangan.

“Borneo.” Neo cepat menyambut.

“Dia dari Jakarta. Ranselnya dirampas di dekat Tanah Hitam.” Anak berkaca mata hitam menyela.

Anak perempuan itu memandang Neo sejenak tanpa melepas jabat tangannya. Air mukanya polos tapi tatapan matanya dalam. Bibirnya kecil, merekah seperti selalu ingin mengatakan  sesuatu.

“Kalau begitu kamu ikut ke rumahku,” katanya sembari melepas jabat tangannya. “Sementara pakai baju yang ada dulu. Besok aku belikan semua keperluanmu.”

Anak perempuan itu pun berbalik meninggalkan Neo.

“Vio! Bukannya dia rencananya tinggal di asrama.” Anak berkaca mata hitam berusaha mengejar. Lalu mereka berdua terlihat beradu argumen di salah satu sudut hall. Tapi anak perempuan itu seperti tak terlalu menggubris sembari mengganti sepatu rodanya dengan sepatu boot.

Dari jauh Neo memperhatikan tingkah mereka. Setidaknya di tempat ini Neo sudah punya dua teman. Jetro dan Violet. Yang satu dipanggil Jet. Yang satu dipanggil Vio. Neo berusaha mengingatnya.

Lampu hall padam. Vio telah mematikannya. Hanya ruang dekat pintu keluar yang terang. Vio menenteng tasnya ke sana. Jet menyusul sembari memanggil Neo untuk mengikuti mereka.

Di luar, langit telah gelap. Hanya lampu-lampu di beberapa bangunan terlihat menyala. Walau gelap, Neo masih bisa melihat bentuk bangunan-bangunan itu sama dengan yang dia lihat di Jakarta.

“Jam berapa nanti ke rumah?” Tanya Vio serius ke Jet.

“Sekitar jam sembilan. Kalau Jag berhasil teleport sendiri ke mercusuar, aku nggak bakal susah lagi menenteng dia teleport ke rumahmu.”

“Kamu yakin dia bisa melakukannya malam ini?”

“Ya, seyakin ketika kamu pertama kali melakukan teleport sendiri. Bakatnya nggak jauh dari bakatmu.” Jet cengar-cengir sembari melonggarkan dasinya.

Vio terlihat sedikit sebal dengan sikap Jet. Tapi dia tampak berusaha mempercayai anak itu. Sedang Neo, banyak yang dia tak mengerti dari percakapan dua anak di depannya.

Vio dan Jet sepakat berpisah di situ. Lalu Vio menyuruh Neo mengikutinya. Neo hanya diam dan menurut karena Vio selalu terlihat buru-buru. Mereka berdua melewati salah satu pedestrian. Neo merasa berada di tengah-tengah bangunan sekitar. Dan tak jauh darinya ada taman luas. Kolam, pedestrian dan pohon-pohon disusun dengan pola melingkar yang semakin ke tengah semakin tinggi. Neo masih ingat, taman yang dia lihat di Jakarta juga seperti ini. Cuma yang disana tak terawat dan banyak pohon mati. Di sini gemercik air kolam terdengar lembut.

Agak kewalahan Neo mengikuti anak perempuan di depannya. Hingga mereka sampai di depan bangunan berlantai tiga. Ada lubang besar di tengah dinding lantai satu. Seperti sebuah terowongan dengan lengkung setengah lingkaran di atasnya. Jalan yang mereka lalui menembus ke sana.

“Ini perpustakaan.” Vio menerangkan tanpa menghentikan langkah saat masuk ke lorong.

Neo mendongak, melihat lengkung-lengkung penyangga bangunan di atasnya.

Saat keluar lorong, pelataran luas terlihat di depan. Dan di ujung sana, tembok tinggi panjang terbentang. Di tengahnya sebuah pintu gerbang yang Neo lihat saat di padang rumput. Ada area parkir tak jauh dari situ. Sebuah sedan hitam terparkir di pinggir. Vio menuju ke sana. Seorang laki-laki berbaju safari keluar dari mobil dan tergopoh menghampiri Vio. Dia mengambil tas Vio dan dengan sedikit berlari kembali ke mobil menaruh tas di bagasi. Lalu Vio menyuruh Neo masuk pintu belakang. Dia masuk dari pintu lain dan duduk di sebelah Neo. Neo sedikit canggung duduk dekat anak perempuan di dalam mobil dengan wangi mewah dan tempat duduk yang lembut.

“Jet mau kemana?” Neo menutupi rasa canggungnya.

“Dia balik ke asrama. Malam ini dia akan menguji kemampuan teleport teman kami Jag,” jawab Vio dengan tatapan lurus ke depan.

Mobil pun bergerak meninggalkan pelataran.

“Teleport?” Neo bertanya, berusaha tidak salah melafal.

“Ya, kemampuan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.” Tatapan Vio masih ke depan. “Jet adalah anak yang punya kemampuan teleport alami sejak lahir. Dia yang mengajari aku dan Jag. Tapi kalau untuk menenteng orang, kemampuannya menurun. Itu berpengaruh pada kecepatan teleportnya. Apalagi kalau menenteng orang yang tidak punya dasar-dasar seperti kamu. Guru-guru bisa tahu kalau dia sedang menggunakan teleport.”

Neo berusaha memahami. Sementara mereka telah sampai di depan gerbang.

“Ini kuncinya Pak Ali.” Vio menyerahkan seonggok kunci pada laki-laki berbaju safari di belakang kemudi.

Laki-laki itu berjalan ke arah gerbang dan membuka beberapa gembok disana.

“Apapun yang kamu tahu mengenai masalah teleport ini, jangan bicara pada siapapun nanti selama kamu di sekolah ini.” Nada Vio agak tegas. Kali ini dia bicara menatap Neo.

“Kenapa?” Tanya Neo polos.

“Teleport mulai diajarkan di kelas tiga. Kita dilarang melakukannya karena belum saatnya,” jawab Vio cepat.

Sementara laki-laki berbaju safari sudah kembali dan memajukan mobil keluar gerbang. Lalu dia mengunci kembali gerbang tinggi dari jeruji besi itu.

Mobil mulai kencang. Hanya bayang gelap rumput terkena angin yang terlihat di kanan kiri. Lalu jalan memasuki rimbunan pohon-pohon besar. Yang terlihat di depan hanya aspal terkena sorot lampu mobil. Sesekali sorot lampu mengenai batang-batang besar yang telah berlumut. Setelah keluar dari gelap jajaran pohon, mobil melintasi jembatan.

“Kamu tadi lewat sini?” Vio memecah kebisuan.

“Nggak, aku lewat jembatan gantung,” Di luar Neo melihat pembatas besi jembatan panjang.

“Dari mana kamu tahu jalan itu?”

“Waktu aku naik colt, ada ibu-ibu kasih tahu saya untuk lewat situ.”

“Ibu-ibu?”

“Iya, dia sama anak perempuannya. Kulitnya pucat, rambutnya merah.”

Vio mengangguk pelan. Seperti mengerti yang Neo maksud. Lalu dia menatap ke depan lagi.

“Kamu tahu siapa dia?” Neo penasaran.

“Ibu Sari, salah satu guru kita. Anaknya Ceri, sekolah di sini juga.”

Neo sudah tahu namanya Ceri. Dan kini dia tahu akan bertemu lagi dengan anak perempuan bermata bening itu.

Jalan mulai menanjak. Neo berpikir ini jalan curam yang dia turuni tadi sore. Tapi mobil Vio tetap melaju kencang. Sampai di sebuah belokan, jalan mulai turun.

“Penduduk di sekitar Hutan Ular adalah orang-orang yang paling lama di kota ini. Mereka petani dan peladang. Selain juga penduduk di pesisir pantai yang kebanyakan nelayan.” Vio bicara seolah sedang memberi ceramah.

Neo mendengar dengan seksama. Dia merasa harus tahu apapun mengenai tempat yang baru buatnya.

“Kebanyakan orang-orang sini punya kekuatan spiritual. Penduduk sini umurnya lama-lama.” Vio menambahkan.

Neo ingat seorang nenek dan seorang kakek yang dia lihat lewat di pinggir jalan ini.

“Dalam sejarahnya, kota ini adalah kota mistis. Peristiwa mistis yang terjadi di sini bukan hal asing buat penduduknya. Frekuensi di daerah ini sangat tinggi untuk kegiatan metafisika. Itulah kenapa Paranormal Academy ada di sini.” Vio menerangkan dengan serius.

Neo tak kalah serius mendengarkan sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dia berharap Vio tak berhenti bicara.

Jalan gelap dan sepi. Mobil Vio meluncur kencang tanpa hambatan. Hingga mereka sampai di tempat yang lebih terang karena penerangan lampu jalan. Di depan ada bundaran dengan patung di tengah.

“Patung itu ada saat kota ini ada. Orang dulu percaya patung itu mendatangkan hujan. Hingga tanah di sini jadi hitam dan subur.” Vio menjelaskan saat mobil mengitari bundaran.

Neo sempat melihat rambu penunjuk jalan. Mobil Vio masuk ke jalan yang mengarah ke kota. Sepanjang jalan di sebuah kota kecil dalam temaram malam, Vio menerangkan apa saja yang mereka lewati.

“Penduduk kota tidak suka pada kepercayaan orang sekitar Hutan Ular dan pesisir. Dari dulu mereka ingin merobohkan patung di bundaran Tanah Hitam. Mereka juga menuduh perampok di daerah kumuh didalangi orang sekitar Hutan Ular dan pesisir.”

Neo teringat tas ranselnya.

“Kalau Paranormal Academy?” Apa penduduk sini juga tidak suka?” Spontan Neo bertanya.

“Ada kelompok yang tidak suka Paranormal Academy disini. Tapi mereka tidak berani menyentuh Hutan Ular.”

Lalu jalan mulai naik menyusuri bukit-bukit. Di kejauhan gundukan bukit tampak hitam. Tapi gemerlap lampu menyebar bagai titik-titik bintang disana.

“Itu kawasan perumahan elit. Rumahku ada di sana.” Vio menunjuk salah satu bukit dengan titik-titik lampu paling banyak.

Penerangan warna-warni terlihat di kanan kiri. Mobil melewati kawasan ruko, supermarket, lalu restoran cepat saji.

“Itu satu-satunya restoran cepat saji disini. Ceri dan sepupunya, Druzy, kerja disitu.” Vio menerangkan sambil lalu.

“Druzy?” tanya Neo.

“Iya, dia sekolah di Paranormal Academy juga.”

Mereka pun sampai di gerbang perumahan yang dijaga satpam. Lalu mobil melewati rumah-rumah besar berhalaman luas. Hingga mereka berhenti di depan pagar rumah Vio. Pintu gerbang terbuka otomatis. Mobil melewati taman luas lalu masuk ke garasi besar. Di sana ada dua mobil lain yang terparkir. Neo mengikuti Vio masuk ke dalam. Di mata Neo, rumah Vio begitu mewah. Perabot-perabotnya seperti yang dia lihat di majalah interior.

“Ini kamar kamu.” Vio membuka salah satu pintu. “Kamar ini nggak pernah ditempati karena nggak pernah ada tamu ke sini. Bi Tumi nanti akan mengurus keperluanmu.”

Neo duduk sendiri di kasur empuk, memandangi kamar luas ber-AC dengan perabotan mewah. Lalu seorang ibu gemuk masuk membawa tumpukan baju.

“Mas Neo, kata Mbak Vio pakai ini dulu. Kaosnya masih bagus-bagus, belum pernah dipakai Mbak Vio.” katanya.

“Terima kasih Bi.” Neo menerima baju-baju itu. Ada beberapa celana pendek di sana.

“Katanya habis mandi disuruh langsung makan sama Mbak Vio.” Ibu gemuk itu masuk ke kamar mandi, menaruh sikat dan pasta gigi.

“Orang tua Vio kemana Bi?” Neo bertanya saat ibu itu mau keluar.

“Papanya Mbak Vio di Jakarta. Paling sebulan sekali dia ke sini.” Lalu ibu itu terlihat ragu mengatakan sesuatu. “ Mama sama adiknya Mbak Vio meninggal karena kecelakaan.”

Neo pun tidak bertanya lagi.

Saat mandi, Neo sedikit canggung. Seumur hidup belum pernah dia memakai bath tub dan shower air panas. Lalu dengan kaos dan celana pendek agak kekecilan, Neo menuju ruang makan. Vio terlihat sedang bicara pada Bi Tumi. Tampaknya Vio kesal dengan masakan Bi Tumi yang itu-itu saja. Vio sudah memegang ponselnya untuk memesan makanan cepat saji.

“Aku bisa bikin nasi goreng.” Neo buka suara. “Mau apa? Nasi goreng spesial, nasi goreng sea food, nasi goreng fantasi?” Yang terakhir Neo mengarang. “Bapakku koki nasi goreng terkenal di Jakarta. Aku punya bakat keturunan. Jadi kalau lihat nasi banyak nganggur begini, aku jadi merasa tertantang.”

Sebenarnya Neo cuma membual. Dia kasihan pada Bi Tumi. Di balik itu, dia tidak suka sikap Vio.

“Boleh. Kamu boleh buktikan kemampuanmu.” Vio menantang. Dan itu yang diharapkan Neo.

Dengan dibantu Bi Tumi, Neo mulai sibuk di dapur. Vio hanya memberinya waktu 15 menit. Neo tidak pernah bikin nasi goreng. Tapi dia tahu resep rahasia bapaknya. Toh kalau masakannya tidak enak, bukan Bi Tumi lagi yang dicibir.

Bau harum memenuhi ruangan saat nasi goreng tersaji di meja makan. Vio terlihat lahap saat menyantap nasi di piringnya. Dan dengan tulus dia memuji masakan Neo. Neo pun lega. Tak lupa dia sisakan untuk Bi Tumi dan Pak Ali.

Tapi tak berapa lama, Vio terlihat buru-buru menguyah sisa makanannya. Sudah empat kali dia melirik jam dinding. Saat Neo selesai, Vio langsung mengajaknya ke balkon. Dari balkon permukaan kota terlihat kerlap-kerlip.

“Di ujung sana laut.” Vio menunjukkan jarinya ke satu arah. “Di sana ada pulau-pulau kecil. Di salah satu pulau ada mercusuar.”

Yang Neo lihat cuma gelap. Neo hanya bisa membedakan kerlip lampu kota dan kerlip bintang.

“Kalau lampu mercusuar nyala, Jet dan Jag sudah sampai di sana.” Vio melihat jam tangannya. Dia sedikit cemas.

Selang beberapa detik, satu titik dengan nyala terang muncul di kejauhan dari arah yang Vio tunjuk tadi.

“Itu lampu mercusuar. Jag berhasil melakukannya.” Vio terlihat lega. “Ayo kita tunggu di ruang baca.”

Neo duduk di depan meja besar. Sekelilingnya dinding penuh rak buku. Vio duduk di sebelahnya. Suasana agak tegang karena dari tadi Vio hanya diam. Neo ikut diam. Hingga Neo sempat mengusap matanya saat tiba-tiba Jet muncul begitu saja di sudut ruang yang gelap. Lalu satu anak lagi muncul di belakang Jet. Posturnya lebih tinggi. Saat mereka mendekat, anak itu terlihat memakai jaket panjang dan topi tentara Jepang. Vio berdiri dan menyalami anak itu, mengucapkan selamat telah bisa melakukan teleport sendiri. Lalu dia memperkenalkan pada Neo. Namanya Jagor. Vio memanggilnya Jag. Neo merasa aneh saat bersalaman. Jag memakai sarung tangan tebal. Sekilas Neo lihat banyak bulu di sekitar pipinya. Dan sepertinya Jag anak yang tidak banyak bicara.

“Kamu sudah cerita?” Tanya Jet pada Vio saat mereka sudah duduk di depan meja besar. Baru kali ini wajahnya terlihat begitu serius.

“Belum. Aku tunggu kalian,” jawab Vio cepat.

Suasana makin serius. Apalagi tidak semua lampu di ruang itu dinyalakan. Lampu di tengah meja paling terang menyala. Vio menggeser duduknya ke arah Neo.

“Kami, aku, Jet dan Jag punya sebuah misi.” Vio membuka suara. “Misi ini berawal dari seseorang yang dipanggil Pak Darko. Dia salah satu guruku dan Jet waktu belajar di JIPA.” Dahi Vio berkerut, mempersiapkan kata-kata selanjutnya.

“Kamu pernah dapat selebaran JIPA?” Jet menyela, bertanya pada Neo.

“Satu lembar cetakan tentang Jakarta International Paranormal Academy?” Neo balik bertanya.

Jet mengangguk cepat.

“Aku pernah ketemu orang di jalan. Dia kasih aku selebaran itu. Orangnya pakai jas rapih. Rambutnya pendek, lurus.” Neo mencoba mengingat.

Jet dan Vio beradu pandang. Lalu Vio mengambil sebuah buku di salah satu rak. Buku tebal dengan sampul tebal itu dia berikan ke Neo. Di sampul tertulis “The Children of Tomorrow- A New World Era – by Darko Sebastian”. Di bawahnya foto orang yang pernah memberi Neo selebaran. Mengenakan jas rapih dan berdasi. Di foto itu dia memakai kaca mata, tersenyum bersahaja.



“Iya. Dia yang memberi aku selebaran.” Neo masih mengamati buku yang dipegangnya.

“Berarti kamu sudah diincar sama dia.” Suara Jet serak. “Aku dan Vio dulu juga dapat selebaran dari dia sebelum masuk JIPA.”

“Pak Darko punya misi lain di JIPA. Dia mau mengumpulkan anak-anak berkemampuan lebih untuk maksud tertentu.” Vio menjelaskan.

“Maksudnya?” Neo belum mengerti.

“Vio bisa meramal masa depan. Dia bisa tahu apa yang dilakukan Darko di masa depan,” sahut Jet.

Hening sesaat di ruang itu. Vio terlihat sedang mengumpulkan apa yang ada di kepalanya.

“Waktu belajar di JIPA, aku pernah bersalaman dengan Pak Darko.” Kali ini suara Vio pelan. “Belum pernah aku dapat visi sepanjang itu sebelumnya. Sampai akau pingsan. Waktu itu aku melihat Pak Darko dengan api menyala di tangannya. Lalu di sekelilingnya banyak anak-anak dengan tangan terikat. Dari mata mereka keluar api. Diantara anak-anak itu, aku lihat diriku sendiri. Lalu ada Jet. Lalu aku lihat kamu.” Pandangan Vio lurus ke Neo.

Neo tertegun. Tapi dia bisa percaya cerita Vio. Karena Neo juga punya sesuatu yang orang lain tak bisa percaya.

“Pak Darko memerintahkan anak-anak itu membakar semua yang mereka lewati. Hingga aku melihat api yang menyala-nyala membakar kota.” Vio meneruskan ceritanya. “Tapi dia tidak sendiri. Di belakangnya banyak orang-orang berbadan besar memakai jubah hitam. Mereka berkulit merah dan bertanduk.”

“Kamu cerita sama guru yang lain?” Tanya Neo.

“Tadinya aku berniat begitu. Tapi aku ragu. Pak Darko sangat dihormati di JIPA. Lagian dia teman baik Bu Raihan, kepala sekolah kita. Pak Darko itu lulusan terbaik Paranormal Academy di Kanada.” Vio menarik napas dalam. Wajahnya berubah tegang. “Sampai waktu itu JIPA mau ditutup. Pak Darko mencoba membunuhku. Untung Jet datang menolongku.”

Hening sesaat. Neo masih menunggu detil cerita Vio barusan. Tapi tampaknya Vio enggan meneruskan.

"Setelah itu dia menghilang. Bu Raihan bilang dia balik ke Kanada. Tapi cepat atau lambat dia akan balik ke sini. Ke sekolah ini. Dan dia tidak sendiri.” Suara Vio sedikit mendesis. “Misi ini harus dimulai. Kita harus mempersiapkan diri. Dan kita butuh satu orang lagi.


 
 
 
Website Naskah Komik The Wolves Website Novel The Hands