Bab 4 : Sebuah Kota dan Anak Perempuan Bermata Bening


Kereta api melambat. Wajah Neo masih rapat di jendela. Sedari tadi dia banyak melihat tempat-tempat yang tak dikenalnya. Seperti stasiun kereta api kecil yang mulai mendekat. Neo cek nama stasiun itu di catatan yang dia dapat dari orang yang masih misteri buatnya. Tampaknya di stasiun itu Neo harus turun.

Kereta berhenti cuma sebentar. Hanya tiga orang turun di stasiun. Stasiun yang sepi seperti mati. Neo melihat catatannya lagi. Dia harus mencari halte bis di dekat situ.

Hampir setengah jam Neo duduk sendiri di halte reot. Hanya beberapa mobil tua  lewat di depannya. Sampai sebuah bis kota muncul di ujung jalan. Nomor yang tertera di kaca depannya sesuai dengan catatan Neo. Tidak ada yang turun dari bis itu. Saat Neo naik, hanya lima penumpang di dalam bis. Neo duduk di bangku belakang. Di depan, beberapa bangku tempat duduknya sudah tidak ada. Seorang kondektur bergigi tonggos mendatangi Neo. Beberapa uang receh Neo keluarkan untuk membayar.

“Terminal Bawah masih jauh Mas?” Neo bertanya.

“Sudah dekat. Tunggu saja sampai bisnya berhenti.” Kondektur itu mengira Neo bukan orang sini.

Neo mengecek lagi catatannya.

“Mau kemana?” Tanya kondektur yang masih berdiri di dekat Neo.

Neo menyerahkan catatannya ke kondektur, karena dia merasa tak bisa menjelaskan.

“Mau ke sekolah paranormal?” Kondektur itu mengembalikan catatan Neo. “Dari Terminal Bawah naik bis kota lagi ke Tanah Hitam. Terus naik colt. Jam lima sore biasanya colt-nya sudah nggak ada.”

Neo belum sempat berterima kasih saat kondektur itu berjalan ke depan. Tapi Neo jadi sedikit lega karena bagaimanapun dia masih asing berada di situ. Sekilas Neo lihat kondektur berbincang dengan penumpang di depan. Sepertinya mereka membicarakan Neo karena orang yang diajak bicara kondektur sempat menoleh ke belakang melihat Neo sambil tertawa seperti mengolok. Lalu sayup Neo mendengar mereka berulang kali menyebut kata : sekolah abnormal.

Bis menepi. Neo merasakan bau amis menusuk. Gerombolan orang masuk ke dalam bis membawa banyak bawaan. Bis ternyata berhenti untuk mengambil penumpang di sebuah pasar tradisional. Di luar Neo melihat pasar yang becek, penuh pedagang penjual ikan. Bis pun jalan lagi ketika penumpang penuh. Tak sampai sepuluh menit, sebuah terminal kecil terlihat di depan. Neo turun disana dan harus berganti bis.

Bau amis masih tercium di udara. Laut bisa terlihat di ujung terminal. Juga kapal-kapal nelayan yang tersandar di atas pasir. Neo mencari bisnya di antara angkutan umum yang mengantri. Dia harus menghindari lubang-lubang di aspal terminal. Hingga saat menemukannya, bis itu sudah mau berangkat. Dengan beban ransel di punggung, Neo berlari mengejarnya.

Perkampungan nelayan terlihat dari dalam bis. Tiga orang berdiri termasuk Neo yang tak berhenti memandang keluar jendela. Lalu bangunan gudang dan pabrik mulai tampak. Neo harus mengeratkan pegangannya setiap kali bis melewati lubang-lubang besar di jalan. Tidak banyak kendaraan yang lewat. Hanya beberapa kali bis berpapasan dengan truk-truk besar.

Saat jalan lengang, tiba-tiba bis berhenti. Neo baru sadar banyak orang di luar. Mereka semua berkerudung sarung ninja. Ramai-ramai mereka menghentikan bis. Beberapa orang bersarung ninja itu masuk dari pintu depan dan berteriak-teriak kasar. Mereka meminta penumpang untuk menyerahkan barang bawaannya sambil mengacungkan senjata tajam. Terlintas di pikiran Neo untuk cepat keluar dari bis karena posisi berdirinya tak jauh dari pintu belakang. Tapi tanpa berbalik pun Neo bisa lihat banyak orang bersarung ninja berdiri memenuhi bagian belakang bis. Mereka membawa golok, pisau, clurit dan kampak.

Neo hanya terpaku melihat seorang dari mereka mulai menghampiri tiap penumpang dan meminta barang bawaan. Satu persatu penumpang menyerahkan dompet, jam tangan, perhiasan bahkan jaket dan ikat pinggang. Yang Neo heran, para penumpang itu tampak pasrah menyerahkan barangnya. Bahkan ada yang suka rela membuka tas untuk diambil isinya. Sorot mata mereka kosong.

Hingga satu orang bersarung ninja sampai di depan Neo. Di antara lipatan sarung yang menutup wajahnya, matanya tajam menghuncam Neo. Dengan suara lantang, dia meminta dompet. Neo diam. Perasaannya tak rela menyerahkan dompet begitu saja. Orang itu pun meminta sekali lagi dengan suara lebih keras. Tapi Neo masih diam. Dia merasa bukan orang berkecukupan. Bahkan uang di dompetnya adalah pemberian orang yang dia tak tahu siapa. Neo sudah pasrah dengan apapun yang akan terjadi asal tak menyerahkan dompetnya.



Neo masih tak bergeming saat orang itu merapatkan wajahnya hingga matanya hanya berjarak beberapa senti dari mata Neo sembari mengancam dengan suara memekak. Akhirnya orang itu mundur sejangkal. Dia sepertinya bingung karena sikap yang ditunjukkan Neo seharusnya tidak terjadi di depan matanya. Neo seharusnya menurut seperti penumpang lain. Dua orang di belakangnya yang membawa barang rampasan tampak heran dan beradu pandang. Lalu orang-orang bersarung ninja lainnya terlihat buru-buru turun dari bis dengan membawa barang rampasan. Orang di depan neo tersadar. Mungkin waktunya sudah habis. Cepat dia menyambar ransel Neo yang ditaruh di bawah. Minimal dia bisa dapat ransel walau tak dapat dompet. Lalu dia turun dari bis dan berlari menyusul komplotannya. Spontan Neo ikut turun dan mengejar orang itu karena semua barangnya kecuali dompet ada di dalam ransel. Neo terus berlari mengikuti orang yang kini  tertinggal sendiri dari komplotannya. Orang-orang bersarung ninja tadi telah berpancar dan menghilang di gang-gang kecil pemukiman kumuh yang ada di depan Neo. Dan orang yang dikejar Neo pun telah masuk ke belokan salah satu gang. Neo kehilangan orang yang membawa tas ranselnya. Tapi sebelum memutuskan masuk ke belokan gang itu, Neo menghentikan larinya. Pandangannya mulai menembus rumah-rumah kumuh di depannya. Menembus dinding-dinding kayu dan seng. Menyusur gang-gang sempit diantara petakan rumah reot. Di tengah pemukiman itu, Neo bisa lihat satu gang cukup besar. Tampaknya orang-orang bersarung ninja tadi telah berkumpul di sana. Beberapa telah membuka sarung ninjanya. Barang-barang rampasan terkumpul di tengah gang. Tapi kebanyakan orang disitu bukan orang-orang yang merampas di bis tadi. Banyak dari mereka berbadan kekar, bertelanjang dada dengan tubuh penuh tato. Mereka terlihat lebih berkuasa. Lalu Neo bisa lihat orang yang membawa ranselnya telah sampai di situ. Dan ransel Neo ditaruh di antara barang rampasan lainnya.

Neo pun mengurungkan niat untuk mengambil kembali tas ranselnya. Bunuh diri namanya bila dia masuk ke sana. Dan suara mesin bis mulai terdengar dari arah jalanan. Neo pun berbalik dan mengejar bis yang mulai berputar rodanya.

Neo ada di dalam bis, memperhatikan reaksi para penumpang setelah sadar barang mereka telah dirampas. Di luar banyak tanah kosong berwarna hitam. Hanya sesekali terlihat rumah gubug. Neo tersadar dan mengecek catatannya. Dia harus turun di tempat bernama Tanah Hitam. Sebentar lagi kalau ada bundaran dan patung berhala, kamu turun, kata kondektur. Tak lama sebuah bundaran terlihat di depan. Di tengahnya ada patung orang sedang berdiri. Neo sempat menanyakan tentang orang-orang bersarung ninja. Kondektur hanya menggeleng-gelengkan kepala. Kita sedang sial hari ini, katanya. Tampaknya dia enggan bercerita.


Neo berdiri di pinggir bundaran. Sebuah persimpangan tiga jalan. Dia pandangi bisnya yang menjauh. Neo merasa masih beruntung tak kehilangan dompetnya. Di dekat Neo ada rambu penunjuk jalan. Satu papan penunjuk bertuliskan KOTA menunjuk ke arah jalan yang kini bisnya tadi menghilang di sana. Papan penunjuk lainnya bertuliskan TERMINAL BAWAH menunjuk jalan yang telah Neo lalui. Satu lagi papan penunjuk bertuliskan UJUNG JURANG. Sesuai catatan, Neo harus ke sana. Dan Neo harus bergegas karena jam tangannya menunjuk hampir jam lima. Saat berjalan, Neo sempat mengamati patung di tengah bundaran. Patung dari pahatan batu setinggi 4 meter. Wujudnya manusia tapi bentuknya abstrak. Kepala dan tangannya menengadah ke langit. Neo melihatnya seperti patung seni modern, seperti yang ada di buku seni rupa.

Neo menyeberang jalan. Di ujung sana sebuah colt tua sedang menunggu penumpang. Keneknya tak berhenti berteriak karena penumpangnya kurang dua. Di kaca depan tertulis TANAH HITAM – UJUNG JURANG. Neo melihat catatannya, lalu menghampiri kenek. Dia bilang akan turun di tempat bernama Hutan Ular. Kenek itu mengamati Neo sebentar, kemudian menyuruh Neo masuk untuk menempati bangku di tengah yang masih kosong. Kenek berteriak lagi. Penumpangnya kurang satu. Tak lama ada penumpang datang. Seorang ibu muda membawa barang belanjaan dan anak perempuan berumur belasan. Tapi bangku kosong tinggal satu di sebelah Neo. Kenek menawarkan salah satu dari mereka untuk duduk di bawah dekat pintu. Ini mobil terakhir ke Ujung Jurang, katanya. Ibu itu sempat ragu, tapi dia tidak punya pilihan.

“Ceri, kamu duduk di bawah ya.” Suara ibu itu lembut pada anak perempuan di sebelahnya.

Anak itu pun mengangguk polos.

“Biar saya saja yang duduk di bawah.” Spontan Neo menawarkan bangkunya. Dia merasa tidak pantas anak perempuan polos itu duduk di bawah.

“Wah terima kasih ya.” Ibu itu tampak gembira memandang Neo.

Lalu Neo bergeser ke dekat pintu.  Tapi karena dia ada di sana, ibu itu jadi tidak bisa menaruh barang bawaannya.

“Biar saya saja yang bawa Bu.” Neo langsung meraih dua plastik besar yang dibawa ibu itu.

“Terima kasih banyak ya. Berat lho ini.” Ibu itu merasa kasihan, Neo yang duduk di bawah harus memangku dua plastik besar.

“Nggak berat kok,” kata Neo polos.

Ibu itu tersenyum, sementara Neo memandangi isi plastik di pangkuannya.

Colt pun mulai bergerak dengan tersendat. Keneknya bergelantung di pintu di sebelah Neo duduk. Neo masih memandangi plastik tepat di depan hidungnya yang penuh dengan daun dan sayuran. Dia penasaran. Pandangannya mulai menembus ke dalam plastik. Tapi hanya berbagai jenis daun dan sayuran yang Neo lihat.

Colt berjalan lebih kencang saat melewati kebun dan sawah. Tatapan Neo masih lurus ke  arah plastik tapi pandangannya mulai beralih ke ibu yang duduk di dekatnya. Neo baru sadar, kulit ibu itu begitu putih. Tangannya putih pucat, seperti tak ada darah di dalamnya. Anak perempuan di sebelahnya juga begitu. Dan rambut anak itu, sekilas tadi Neo kira warnanya merah karena sering terbakar matahari. Kini jelas, helai demi helai rambut panjang dikepang itu begitu merah. Seperti dicat. Neo pun mulai menelusuri wajah anak perempuan itu. Matanya bulat, bulunya lentik. Hidungnya mungil, ujungnya runcing. Bibirnya kemerahan. Ibu itu tadi memanggilnya Ceri.

“Yang kamu lihat itu anak saya.” Tiba-tiba ibu itu berkata pelan di dekat Neo.

Neo pun kaget. Dia merasa tertangkap basah telah curi pandang. Berarti ibu itu tahu apa yang sedang Neo lakukan. Mungkin dia bukan orang sembarangan. Dan Neo terlanjur salah tingkah.

“Cantik kan dia?” Ibu itu makin dekat berbisik pada  Neo.

Neo memaksakan tersenyum. Dia mengutuki dirinya telah sembarangan menggunakan kemampuannya. Setelah itu Neo hanya berani menatap jendela. Sementara jalan yang dilalui colt terus menanjak. Mesinnya meraung, memaksa jalan dengan muatan penuh. Dari tadi sopir hanya menggunakan gigi satu. Sesaat Neo tertegun melihat sesuatu di luar. Ada seorang nenek renta menggendong kayu bakar di pinggir jalan. Ikatan kayu bakar di punggungnya dua kali tinggi badannya. Tapi langkah kaki tua telanjang itu cepat menyusuri jalan menanjak. Tidak tampak kelelahan di wajahnya. Tak berapa lama, Neo melihat seorang kakek bertelanjang dada. Dia sedikit berlari menuruni jalan. Di pundaknya terpanggul lanjar-lanjar bambu yang belum terpotong.

“Kamu mau ke Paranormal Academy ya?” Dari samping, suara ibu itu mengalihkan perhatian Neo.

“Iya.” Neo mengangguk cepat. Benaknya bertanya dari mana ibu ini tahu tujuannya.

“Setelah turun di Hutan Ular nanti, kamu ikuti jalan turun.” Ibu itu mendekatkan kepalanya pada Neo, menjelaskan dengan suara pelan, seakan tak ingin terdengar penumpang lain. “Kalau jalan itu belok ke kiri, kamu jangan ikut ke kiri. Lurus saja, nanti ada jalan setapak, kamu ikuti sampai ada jembatan gantung.” Ibu itu berhenti sejenak, memastikan tidak ada yang mendengar kata-katanya. “Kamu lewati jembatan itu, nanti ada jalan setapak lagi. Paranormal Academy tak jauh dari situ. Kalau banyak ular di pohon, jangan dihiraukan.”

Neo berusaha keras mengingat semua perkataan ibu itu. Sementara jalan terus naik. Udara menjadi dingin. Pohon-pohon besar mulai terlihat di pinggir jalan. Hingga kenek memberitahu telah sampai di Hutan Ular. Neo segera turun setelah berterima kasih pada ibu yang telah baik padanya.

Di seberang jalan terlihat jalan aspal yang menurun. Neo menyeberang. Wajahnya lurus ke jalan itu. Tapi sebenarnya dia sedang memandangi colt tua yang mulai bergerak di belakangnya. Karena di jendela terlihat anak perempuan sedang melongok ke arahnya. Neo tahu anak itu sedang mengamatinya. Justru anak itu tak tahu, Neo sedang mengamati lebih dekat lagi wajahnya yang oval. Ibu itu benar, anaknya cantik. Kulitnya yang pucat dan rambut merahnya membuat dia terlihat bukan orang lokal. Dan matanya – mata yang tak lepas memandangi Neo – walau auranya ceria, tepi permukaannya tampak berkaca-kaca. Neo melihat mata itu begitu bening. Dan Neo tak tahu apakah mereka akan bertemu lagi.
           
           
 
 
 
Website Naskah Komik The Wolves Website Novel The Hands