Bab 3 : Jakarta International Paranormal Academy


Mendung mulai menutup langit bulan ini. Hujan pertama hari ini menghapus debu di sebuah SMA favorit. Pelajaran olah raga dilakukan di hall tertutup. Olah raga senam kali ini dilakukan berpasang-pasangan. Semua murid sudah mendapat pasangan kecuali Neo. Bahkan murid paling pemalu di kelas enggan berpasangan dengan Neo. Hari-hari di sekolah kini jadi hari yang menyakitkan buat Neo. Hingga suatu pagi saat Neo berangkat sekolah, dia tidak turun di halte bis biasanya. Neo tidak biasa membolos. Bahkan terlambat pun tak pernah. Tapi pagi ini dia sudah tak tahan lagi. Dia sudah tak punya alasan untuk turun di halte itu. Neo cuma diam, mengikuti bus itu membawanya kemana. Sampai dia punya alasan untuk turun di pasar loak. Karena disana dia bisa menemukan buku-buku bekas kahlil Gibran. Di sebuah lapak, dua buku sudah habis Neo baca. Hingga penjualnya harus menyingkirkan sisa buku Kahlil Gibran yang lain. Tak mau orang hanya baca gratis di tempatnya jualan.

Akhirnya Neo hanya menyusuri jalan-jalan padat dan berdebu. Dia turun ke bawah jembatan saat buang air kecil. Lalu duduk di pinggir sungai meredakan penat. Lama dia terdiam, memandangi mendung yang mulai datang. Sampai wajah Miska terlintas di kepalanya. Lalu wajah Ponte. Dan Neo ingat, sesuatu ada di dalam tasnya. Dia keluarkan benda itu. Ponsel Ponte dalam keadaan mati. Sejak peristiwa di gang sempit, benda itu tak pernah keluar dari tasnya. Sekarang sekuat tenaga Neo lempar ponsel itu ke tengah sungai. Benda itu lenyap ditelan air yang menghitam.

Neo termenung di tepian air. Melihat bayangannya di genangan. Rasa sedihnya pelan berubah amarah. Hingga titik-titik air berjatuhan memecah genangan yang tadinya tenang. Tumpahan air dari langit pun semakin deras. Neo bergeser lebih ke dalam di kolong jembatan. Dua anak pengamen datang menyusup ke kolong menghindari hujan. Mereka meringkuk di sudut tak jauh dari Neo. Neo pun memperhatikan dua anak yang tak memakai alas kaki itu. Rambut dan badan mereka basah. Berdua mereka menghitung uang receh yang mereka dapat. Lalu Neo melihat dirinya yang masih memakai sepatu. Amarahnya berangsur reda. Kini dia mulai berpikir. Di tengah hujan yang masih mengguyur dunia di atas jembatan, Neo teringat sebuah selebaran. Suatu pagi dimana dia bertemu orang berstelan jas yang tak dikenalnya. Selebaran yang bertuliskan : Jakarta International Paranormal Academy. Seharusnya kamu belajar bersama orang-orang hebat, Neo ingat kata-kata orang itu. Dia mulai menegakkan kepalanya. Neo harus menemukan selebaran itu. Lalu dia beranjak keluar kolong jembatan, berlari menembus hujan.

Badan Neo basah ketika tiba di rumah. Dia langsung menemui ibu tirinya, menanyakan apakah pernah menemukan selebaran saat mencuci celana seragamnya. Ibu tiri Neo menggelengkan kepala. Menjawab seadanya sembari menyuapi anaknya, seperti tak peduli. Neo pun terbiasa dengan perlakuan seperti itu. Sudah dua bulan ini ibu tirinya tak pernah lagi membuatkan telur dadar untuk makan siang. Neo kadang cuma makan nasi dan sayur.

Neo bergegas menuju sumur. Memikirkan kemungkinan selebaran itu terselip di suatu tempat. Karena dia yakin, selama ini kertas itu tak pernah ada di kamarnya. Tapi Neo hanya berdiri di samping sumur dengan kepala tertunduk. Konsentrasinya mengarahkan pandangannya menembus setiap sudut ruang yang ada di sekitar. Pandangannya menyingkap isi lemari makan, kolong meja makan, baju-baju kotor yang ada di ember, dalam kardus-kardus bekas, lalu sela-sela perkakas dapur.

Dari ruang tamu, Neo terlihat sedang mematung di samping sumur. Ibu tiri Neo lama memandangi anak tirinya yang bertingkah aneh. Wanita itu merasa sudah berusaha menjadi ibu yang baik. Tapi keanehan anak itu kadang membuatnya tak tahu harus berbuat apa.

Pandangan Neo pun sudah menyusur ke rak-rak dapur. Dan di rak dapur paling pojok dia bisa lihat tumpukan beberapa lembar kertas. Cepat Neo ke dapur mengambil kertas-kertas itu. Lembar-lembar itu ternyata tulisan resep masakan ibu tirinya. Tapi di satu lembar, di baliknya adalah cetakan selebaran yang Neo cari.

Neo menutup pintu kamarnya. Matanya berbinar memandangi kertas yang dipegangnya. Dia mulai membaca tulisan yang ada di lembar itu.

JAKARTA INTERNATIONAL PARANORMAL ACADEMY
( J I P A )

  • JIPA adalah wadah pendidikan bagi anak-anak yang mempunyai bakat dan kemampuan khusus melebihi anak seumurnya melalui metoda belajar yang telah disesuaikan.
  • JIPA mempunyai misi mempersiapkan anak-anak berkemampuan lebih untuk bisa memimpin dan menjadikan peradaban manusia lebih baik.
  • JIPA mendapatkan lisensi dari International Paranormal Academy yang sudah berdiri di beberapa negara, antara lain di Toronto (Canada), Rio (Brasil), Lyon (Perancis) dan Perth (Australia).
  • JIPA menggunakan standart pendidikan yang telah diakui secara internasional dengan tenaga pendidik yang berlisensi dan ahli di bidangnya.
  • JIPA didukung dana internasional untuk memberikan beasiswa penuh bagi siswa yang benar-benar berbakat.

Lalu Neo membaca sebuah alamat yang tertera di bawahnya. Neo tahu alamat itu. Tapi tiba-tiba bapak Neo muncul membuka pintu kamar. Neo bermaksud menyembunyikan kertas itu tapi tak sempat. Dia hanya menekuk bagian tengahnya agar tak terlihat langsung oleh bapaknya.

“Dari mana kamu Neo? Kenapa pulang terlambat?” Tanya bapak Neo yang masih berdiri di ambang pintu.

“Ada ekstrakurikuler Pak di sekolah.” Neo berusaha bohong.

Tetapi bapak Neo seperti memahami. Mungkin karena posisi Neo terlihat sedang belajar. Duduk di depan meja kecilnya dengan membawa selembar catatan.

“Sudah makan?” Tanya bapak Neo lagi.

“Belum,” jawab Neo. Dia berharap bapaknya tak curiga dengan kertas yang dipegangnya.

“Makanlah sana.”

“Iya Pak, sebentar lagi.”

Bapak Neo menutup pintu kamar. Neo lega. Di baca sekali lagi selebaran itu. Dan siang ini dia tidak merasa lapar.

Malam harinya Neo terbaring di atas ranjang dengan sebuah rencana di kepalanya. Selebaran itu telah tersimpan di dalam tasnya. Meski dengan perut keroncongan tapi malam ini Neo bisa pulas tertidur.

Esok harinya Neo berangkat sekolah dengan semangat. Tapi dia tidak naik bis yang biasa dia tumpangi. Neo mengambil jurusan yang menuju alamat seperti tertera dalam selebaran.
Di dalam bis Neo berdiri di antara jejalan orang bergelantungan. Kebanyakan mereka orang-orang yang mau ke kantor. Neo berkeringat tapi dia tak peduli. Yang dia pikirkan adalah sebuah sekolah yang dapat menerima orang sepertinya.

Neo turun dari bis di tempat yang dia kenal. Dia tahu harus jalan kaki untuk menuju alamat di selebaran itu. Di ujung jalan dia lihat tulisan alamat itu di papan nama jalan. Neo berusaha mengurutkan nomer gedung-gedung yang dia lewati. Tapi setelah beberapa kali bolak-balik, dia tidak menemukannya. Neo memberanikan diri bertanya pada satpam salah satu gedung. Satpam itu pun menunjuk ke sebuah gedung di ujung jalan. Neo menuju ke sana. Dia sedikit tak percaya bahwa tempat itulah yang dia cari. Karena selain tak ada nomernya, tempat itu seperti tak terurus. Daun kering betebaran di trotoar. Tumpukan sampah tersebar di beberapa tempat. Lalu yang membuat lama Neo terpaku di situ adalah tembok tinggi yang membentak di sepanjang trotoar. Pagar tembok itu tampak baru, tapi banyak coretan di sana. Satu persatu Neo baca tulisan-tulisan di tembok itu. Semuanya bernada kasar dan menghujat.
Satu-satunya yang tak bertembok di tempat itu adalah pintu besi yang juga tak kalah tinggi. Tapi bagian belakang jeruji pintu itu sengaja ditutup lembaran seng hingga orang tak bisa melihat ke dalam. Lalu beberapa police line melintang di depan jeruji pintu. Tampaknya orang dilarang masuk ke tempat itu.

Akhirnya Neo hanya duduk di pinggir trotoar. Tak tahu harus bagaimana. Sebenarnya ambang keputusasaan sedang menghampiri dirinya. Sampai seorang pemulung datang mengambil botol plastik di serakan sampah. Lalu pemulung itu duduk tak jauh dari Neo. Dia seorang laki-laki tua yang kurus. Sengaja dia meredakan lelah sembari matanya masih mencari sampah yang bisa diambil. Lalu dia melirik sebentar ke arah Neo.

“Dulu ini sekolahnya bagus sekali.” Pemulung itu bersuara.

Neo menoleh, memperhatikan sosok tua tak jauh darinya.

“Muridnya banyak. Banyak anak orang kaya juga. Sayang, sekolah bagus-bagus kok didemonstrasi,” kata pemulung itu polos.

Neo berusaha mendengarkan. Karena pak tua ini mungkin akan menjelaskan apa yang terjadi.

“Tapi ini sekolah banyak setannya kali ya. Demonstran-demonstran itu banyak yang mati. Ada lima atau enam orang dibawa ambulan. Nggak tahu tuh, tiba-tiba pada mati aja di jalanan sini.” Pemulung itu antusias bercerita karena Neo terlihat begitu serius mendengarkan.

“Terus gimana pak?” Neo penasaran.

“Ya terus polisi pada datang. Sekolah ini nggak boleh lagi diterusin. Nggak tahu itu pada kemana sekarang murid-muridnya.”



Pemulung itu pun beranjak dari duduknya.

“Ada-ada aja. Sekarang sekolah mahal. Ada sekolah bagus malah ditutup.” Pemulung tua berguman sembari meninggalkan Neo. Matanya kembali mencari tempat dimana ada sampah.

Lama Neo termangu di depan tembok penuh coretan, memikirkan cerita pemulung itu. Hingga rasa penasaran menghinggapinya. Neo menunduk, berusaha mengumpulkan konsentrasi. Lalu pandangannya mulai menembus tembok di depannya. Neo bisa melihat bangunan-bangunan berlantai dua. Seluruh dindingnya ditempeli batu-batu. Atapnya dari ijuk mengerucut tinggi. Jendelanya besar-besar berjajar hampir di seluruh dinding. Beberapa kaca jendela pecah, seperti bekas dilempar batu. Dan di tengah bangunan-bangunan itu ada sebuah taman. Rumput liar tumbuh tinggi di sana. Pohon-pohon yang tampaknya baru ditanam terlihat mengering. Di tengah taman ada seperti bekas kolam. Dindingnya berlumut dan sisa airnya berwarna coklat. Tiba-tiba Neo melihat orang. Dia bergerak cepat di depan salah satu bangunan. Neo berdiri. Dia kumpulkan konsentrasi lebih banyak lagi. Karena orang yang dilihatnya telah menyelinap di sudut bangunan. Pandangan Neo menembus semua dinding-dinding di sana sampai dia lihat orang itu lagi. Neo pun harus melangkahkan kakinya sampai ke depan tembok. Berkali-kali Neo kehilangan jejak orang itu. Dan Neo sudah tidak bisa bergerak lagi karena ujung tembok dan trotoar itu berbatas dengan sungai. Tapi ada jalan tanah yang sempit di antara sungai dan tembok samping. Neo cepat masuk ke sana. Dia terus bergerak maju untuk tetap bisa melihat orang di dalam sana. Sampai jalan itu berujung di sebuah pohon besar. Neo tidak bisa bergerak lagi. Samping kanannya tembok tinggi, samping kirinya sungai dan di depannya batang pohon besar. Tapi di jarak ini justru dia bisa melihat jelas orang itu. Di balik dinding-dinding di sana, orang itu terlihat duduk di depan meja sedang menulis. Dia mengenakan baju dan celana putih. Memakai sendal. Tapi Neo tak melihat wajahnya. Karena posisi duduknya membelakangi Neo. Hanya rambutnya saja yang Neo lihat sudah memutih.

Untuk beberapa saat Neo masih berdiri tak bergerak. Karena orang itu terlihat masih menulis. Tapi sekilas Neo sempat mengamati pohon besar di dekatnya. Beberapa ranting pohon itu menjulur masuk di atas tembok tinggi. Lalu ada ranting menjulur keluar yang berasal dari pohon di balik tembok. Bagi orang yang bisa memanjat, itu adalah jalan mudah untuk bisa masuk ke balik tembok. Hati-hati Neo memanjat pohon itu sembari tak melepas pandangannya ke orang di dalam sana. Hingga ketika Neo telah sampai di balik tembok, orang itu masih di sana. Neo diam sejenak. Dia baru menyadari bahwa tindakannya begitu spontan. Tapi dia sudah terlanjur ada di situ. Minimal dia bisa mendapatkan info dari orang itu, pikirnya.

Neo melewati lorong-lorong bangunan berdinding batu. Orang itu semakin dekat, hanya berlapis beberapa dinding. Hingga Neo sampai di depan bangunan satu lantai. Hanya ada satu pintu di tengah. Pintu itu sedikit terbuka dan Neo tahu orang itu ada di dalam. Neo melangkah maju. Tapi saat dia membuka pintu, ruang itu kosong. Hanya ada satu meja dan kursi di tengah ruangan. Neo tak tahu kemana perginya orang itu. Saat pandangannya menembus dinding-dinding, Neo tak menemukannya. Orang itu seperti lenyap.

Cahaya remang di ruangan itu. Sinar matahari hanya masuk dari lubang-lubang angin. Tapi Neo bisa melihat lembar kertas di atas meja. Neo mendekat dan mengambilnya. Dua lembar kertas bertuliskan tangan, sebuah tiket kereta api dan beberapa lembar uang. Lalu Neo mulai membaca tulisan di tangannya.


Saya tahu kamu punya kemampuan lebih yang tidak semua orang punya. Kemampuanmu itu bisa diasah agar suatu saat bisa berguna buat sesama. Ada sebuah sekolah yang bisa membimbing kamu supaya kamu bisa menggunakan kemampuanmu lebih baik lagi. Tapi sekolah ini berada jauh di sebuah kota demi keselamatan semua pihak.

Pikirkan matang-matang sebelum mengambil keputusan. Kalau kamu benar-benar ingin melakukan sesuatu dengan kemampuanmu, kamu bisa pergi ke kota ini. Ada tiket kereta yang berangkat besok pagi dan uang untuk naik angkutan umum. Semua daftar angkutan untuk sampai sekolah ini sudah saya tuliskan di lembar terpisah.

Keputusan ada di tangan kamu. Jika kamu ragu, tinggalkan surat ini dan tiketnya di meja. Kamu boleh ambil uangnya.

Neo membaca lembar yang satu lagi. Disana tertulis kode-kode angkutan umum. Lalu ada sepuluh lembar uang 10.000-an. Beberapa saat Neo terdiam. Dia tidak kenal orang ini. Atau mungkin dia bukan orang. Tapi entah kenapa Neo percaya padanya.

***

Malam telah larut saat Neo terbaring di ranjang. Sebuah tiket kereta ada di tangannya. Lama matanya tertuju pada tiket itu. Sebuah keputusan besar harus diambilnya. Tapi toh dia merasa sudah tidak diterima siapa-siapa lagi. Beberapa jam yang lalu bapaknya marah karena laporan ibu tirinya bahwa dirinya telah mengambil salah satu catatan resep di dapur. Walau begitu yang membuat dia berat untuk pergi cuma bapaknya. Malam ini dia ingin menuliskan pesan untuk bapaknya. Dia ingin bapaknya tak mengkhawatirkannya. Tak perlu mencarinya karena suatu saat dia akan kembali. Dan dia berjanji akan menemukan ibunya. Lalu dia minta maaf telah mengecewakan bapaknya. Neo bangun, mencari kertas dan bolpen. Di meja kecilnya dia mulai menulis.

Pagi jam empat Neo sudah menyelinap keluar rumah. Sebuah ransel besar ada di punggungnya. Keretanya berangkat jam enam. Jam lima Neo sudah ada di stasiun. Matahari mulai menyembul di ujung kota saat roda-roda besi kereta mulai bergerak. Neo duduk di pinggir jendela, menyaksikan pagi di jalan-jalan yang dia kenal. Semua seperti bergerak cepat ke belakang. Semua yang akan ditinggalkannya. Mungkin di suatu tempat dia bisa diterima untuk menjadi dirinya sendiri.

Sawah dan parit mulai terlihat di jendela. Neo sadar kotanya sudah jauh di belakang. Dan dia mulai mengantuk. Terakhir yang terlintas di pikirannya adalah bapaknya yang sedang membaca pesannya di selembar surat. Lalu dia pulas tertidur bersandarkan kaca jendela.


 
 
 
Website Naskah Komik The Wolves Website Novel The Hands