Bab 2 : Pecundang dan Pembunuh


Bel pulang berdering. Matahari begitu terik dua bulan ini. Neo berjalan menuju toilet. Sementara siswa lain berbondong ke arah gerbang. Neo sengaja mengulur waktu menunggu bis yang akan ditumpanginya sepi. Seperti biasa Neo memilih toilet yang paling pojok. Sempat dia lihat tempelan kertas bertuliskan WC RUSAK di pintu toilet yang di tengah. Setelah buang air kecil, Neo tidak langsung keluar. Dia duduk di atas toilet dan membuka buku kecil Kahlil Gibran. Tetapi sesuatu membuatnya menunda membaca. Dia merasa ada orang di salah satu toilet. Neo tidak biasa menggunakan kemampuannya di toilet. Tapi di jam segini seharusnya dia sudah sendiri di situ. Apalagi dia tak leluasa melakukan kegiatan membacanya. Dia tak bisa menahan rasa penasaran.

Neo menunduk. Membiarkan penglihatannya menembus dinding-dinding toilet. Hingga di toilet yang tengah, Neo melihat tiga anak berseragam sekolah di sana. Semua Neo kenal, Ponte, Igor dan Erik. Mereka seperti menahan melakukan sesuatu. Mematung dan bicara berbisik. Seperti tak ingin orang tahu keberadaan mereka di situ. Neo merasa mereka sedang menunggu dia keluar dari situ. Neo cepat beranjak. Tapi saat melewati toilet bertuliskan WC RUSAK, dia bisa dengar nama Miska dibisikkan dari dalam. Setelah keluar Neo tidak langsung pergi. Dia merapat ke pojok, di antara bangku-bangku rusak. Dia berdiri di tempat yang tak terlihat sembari mengumpulkan konsentrasi. Neo bisa melihat tiga siswa di toilet itu lagi. Mereka sibuk dengan seutas kabel. Ponte naik ke toilet, memegang ujung kabel yang seperti senter kecil. Dia pasang ujung kabel itu di pojok ventilasi, di dinding yang membatasi toilet pria dan wanita. Ujung lain kabel itu tertancap di laptop yang dipegang Erik. Di monitornya tertangkap gambar salah satu toilet wanita dari arah ventilasi.

“Biasanya mereka ke toilet itu lima menit sebelum bubaran istirahat pertama.” Ponte bersuara pelan sambil merekatkan kabel ke dinding dengan isolasi.

“Miska yang biasanya terakhir keluar.” Igor menambahkan.

“Lo ngebet banget sama Miska?” Tanya Erik ke Igor sambil cekikikan.

“Lo sendiri sama Brita gimana?” Igor balik bertanya.

“Biasa aja, baru sebulan jalan.” Erik menegaskan.

“Ponte, lo gebet aja tuh si Kristin.” Igor beralih ke Ponte.

“Oke juga sih doski.” Ponte menahan tawa senangnya.

“Lucu juga ya lihat mereka buka celana di toilet.” Erik tertawa diikuti dua temannya.

Neo keluar dari persembunyiannya. Langkahnya cepat menyusuri gang-gang sekolah yang telah sepi. Ponte, Igor dan Erik menamakan mereka Gang Macho. Dan di dunia ini hanya Neo yang tahu rencana mereka. Neo punya kesempatan untuk menjadi pahlawan di mata Miska.

***

Pagi cerah saat Neo menunggu sebuah sedan terparkir di depan halaman sekolah. Kali ini dia tidak sedang mengumpulkan konsentrasinya. Yang dia pikirkan adalah kata-kata untuk bicara dengan Miska. Pandangannya tidak menembus mobil sedan di depannya. Dia hanya menatapi pintu mobil itu untuk mengumpulkan semua keberaniannya karena sebentar lagi Miska keluar dari situ.

“Miska!” Neo berhasil meneriakkan nama gadis itu.

Miska yang baru keluar dari mobil menoleh ke arah suara. Mendapati Neo berjalan kaku ke arahnya. Miska tahu Neo karena dia teman sekelasnya. Tapi hanya sebatas itu hubungan mereka. Selama ini mereka tak pernah bicara. Bahkan tak pernah terlibat interaksi sekecil apapun.

“Ada yang ingin kusampaikan. Penting!” Neo berusaha menata suaranya.

“Ada apa ya?” Miska tersenyum heran. Pagi-pagi ada orang kikuk di depannya menyampaikan berita penting.

“Kamu tahu Gang Macho… Eh maksudku Ponte, Igor sama Erwin. Mereka memasang kamera tersembunyi untuk merekam WC cewek.” Terbata Neo menyampaikan beritanya.

“Maksudnya?” Miska bertambah heran. Cerita itu terasa janggal di telinganya.

“Mereka mau merekam kamu, Brita sama Kristin di toilet.”

“Masak?”

“Coba kamu cek ventilasi di toilet yang sering kalian pakai.”

Miska mencoba memikirkan kata-kata Neo. Tapi suara-suara memanggil namanya dari gerbang sekolah. Brita dan Kristin ada di sana.



“Sori gue udah ditunggu.” Miska melangkahkan kakinya menjauhi Neo.

“Sebaiknya kamu cek dulu ventilasinya!” Neo sedikit berteriak.

“Ok!” Miska basa-basi tanpa menghentikan langkahnya menuju gerbang.

Neo tak tahu apakah itu penampilan terbaiknya di depan Miska. Tapi dia lega telah menyampaikan sesuatu yang dia tahu. Hanya dia yang tahu.

Jam istirahat Neo menuju ke perpustakaan. Tidak seperti siswa lain yang punya uang saku untuk dibelikan sesuatu di kantin. Dia hanya bawa sebotol air putih di tasnya. Tapi saat lewat di depan kantin, dia lihat Miska, Brita dan Kristin bersama Ponte, Igor dan Erik. Neo heran, langkahnya sedikit melambat. Mereka berenam berdiri di salah satu sudut kantin. Dan keenam pasang mata mereka sedang tertuju ke arahnya. Terlintas di pikiran Neo bahwa mereka telah tahu apa yang dia katakan ke Miska tadi pagi. Dan betapa dia tak berpikir jauh tentang kedekatan Gang Sexy dan Gang Macho. Mereka satu kumpulan anak-anak orang berada di sekolah ini. Dan belum lama orang tahu kalau Brita jadian dengan Erik.

Neo membelokkan arah jalannya. Tidak ke perpustakaan. Langkahnya diayun cepat menuju toilet. Saat istirahat toilet penuh. Neo pura-pura antri di depan toilet bertuliskan WC RUSAK. Tapi di dalamnya Neo tidak melihat kabel di dinding dan ventilasi. Tidak ada kabel, tidak ada laptop. Neo berniat hendak menegaskan lagi kata-katanya pada Miska. Neo ingin Miska tahu dia bersungguh-sungguh dengan ceritanya. Tapi saat bel pulang, Neo hanya sempat melihat Miska keluar kelas mendahului murid-murid yang lain.

Mungkin besok pagi Neo bisa bicara lagi pada Miska. Dia coba memikirkan kata-kata yang lebih meyakinkan saat berjalan menuju gerbang sekolah. Tapi meski gerbang masih jauh, Neo bisa melihat Ponte, Igor dan Erik di balik gerbang. Neo sedikit gentar karena halaman sekolah telah sepi. Bagaimanapun gerbang itu satu-satunya jalan keluar. Neo harus tetap melewatinya. Langkahnya lurus ke arah gerbang. Yang dia coba pikirkan cuma Miska.
Ponte keluar dari balik gerbang saat Neo sudah dekat. Dia menghalangi jalan Neo.

“Ngomong apa kamu tadi pagi sama Miska?” Tanya Ponte tanpa basa basi.

Neo merasa tidak harus menjawab. Dia berusaha menghindari Ponte, tapi Igor dan Erik sudah berdiri di hadapannya.

“Mau jadi pahlawan ya?” Tanya Igor. Dada kekarnya dirapatkan ke hidung Neo.

Neo tidak bisa kemana-mana. Tiga orang sudah mengepungnya.

“Dia tuh naksir Miska Gor. Kayaknya musti langkahin mayat lo dulu deh Gor.” Erik tertawa sinis.

“Kamu pikir Miska akan tertarik sama ceritamu?” tambah Igor.

Neo tak tahan lagi. Dia menerobos celah di antara mereka. Ponte hendak menghentikannya tapi ditahan Igor.

“Kalau mau jadi pahlawan, ngaca dulu dong!” Igor berteriak pada Neo yang sudah lari menjauh. Ponte dan Erik nyaring terbahak-bahak.

Gumpalan awan mengurangi terik siang ini. Neo cepat menyusuri gang sempit. Jalan pintas dari sekolahnya menuju halte bis. Tapi langkahnya terhenti karena di balik gang sana bisa dia lihat mobil Igor terparkir. Baru saja Neo berniat berbalik arah, Ponte terlihat memacu motornya dari ujung yang lain. Dan di ujung satunya Igor dan Erik berjalan cepat mendekatinya. Neo ada di tengah gang. Kanan kirinya tembok pabrik setinggi 3 meter. Tidak ada orang lain lewat di gang itu. Neo hanya bisa diam. Sementara Ponte telah memarkir motornya melintang gang tak jauh dari Neo. Igor mendekat dan langsung memegang lengan Neo.

“Gue dapat pesen dari Miska. Dia mau kenang-kenangan dari lo.” Igor berbisik kasar di telinga Neo.

Neo mencoba berontak. Tapi Erik sudah memegang lengannya yang satu lagi. Neo tak punya daya diseret dua orang berbadan kekar ke tembok.

“Ponte, kameranya!” Igor berteriak ke Ponte.

Ponte mengambil ponselnya, menyalakan mode kameranya.

Neo tak tahu mau diapakan. Semakin Neo berontak, semakin Igor dan Erik mengencangkan cengkramannya. Sampai mereka bertiga oleng dan terguling ke tanah. Tapi tetap Neo tak bisa menggerakkan badannya. Igor dan Erik terlalu kuat buatnya. Hingga Neo sadar kalau celana seragamnya sedang dilucuti. Kakinya ingin meronta, tapi badan Ponte yang dempal telah mendudukinya.



“Celana dalamnya juga!” Igor memerintah Ponte sembari badan kekarnya masih menindih Neo.

“Miska pasti suka melihatnya.” Erik tertawa. Tangannya menahan badan Neo yang berontak.

Neo merasa celana dalamnya sudah tidak pada tempatnya. Cahaya lampu flash dari kamera ponsel Ponte terus menyala. Sekuat tenaga Neo meronta tapi sia-sia. Neo terus melawan namun dia hanya bisa mengejan. Terbayang bagaimana Miska akan melihat fotonya yang sangat memalukan.

Dalam keputusasaan Neo memejamkan matanya. Yang dia harapkan cuma mengenyahkan orang yang menindihnya. Tapi tiba-tiba pandangannya terseret ke suatu tempat. Neo melihat rel kereta api. Rel yang melintas tak jauh dari sekolahnya. Besi panjang mengkilat itu seperti sedang memuai tertimpa terik. Neo bisa merasakan udara yang memanas di sepanjang lajurnya yang tak berujung. Lalu Neo melihat permukaan besi itu bergetar. Semakin lama getarannya semakin keras. Kemudian roda kereta yang berputar cepat semakin mendekat. Sebuah kereta ekspres melesat melewati jalurnya menuju perlintasan. Di sana telah banyak kendaraan yang mengantri di depan plang kereta api yang melintang. Rambu yang bertuliskan AWAS LINTASAN KERETA API besar terpampang. Lintasan yang tiap hari Neo lewat.

Tapi gambar lintasan itu tiba-tiba hilang. Di depan Neo, Igor dan Erik begitu dekat sedang tertawa terkekeh.

“Enyah kalian!” Neo berteriak spontan di ambang keputusasaannya.

Dan Neo pun kaget. Karena dia bisa menggerakkan badannya. Dua orang yang mencengkeramnya sudah tidak ada. Igor dan Erik seperti lenyap. Yang Neo lihat cuma Ponte yang berdiri kebingungan. Sadar masih tergeletak di tanah, Neo cepat beranjak, membetulkan celananya yang melorot sebatas lutut. Sementara Ponte masih berdiri mematung. Kemudian lari terbirit meninggalkan motornya begitu melihat Neo sudah berdiri. Neo hanya menatapi Ponte yang menghilang di ujung gang. Lalu memandangi gang sepi di sekitarnya. Dia masih tak tahu apa yang terjadi. Dia lihat ponsel Ponte tergeletak di tanah. Segera Neo mengambilnya. Dia hapus semua foto yang memperlihatkan bagian tubuhnya tanpa celana. Dia ingin buang ponsel itu. Tapi dia urungkan. Mungkin dia harus mengembalikannya. Namun tak mungkin setelah semua yang telah terjadi. Neo hanya mematikannya dan memasukkan ke saku celana. Lalu Neo berlari meninggalkan gang itu.

Saat akan sampai di perlintasan kereta, Neo merasa janggal. Orang-orang di sekitarnya berlarian ke sana. Gerombolan orang ramai di sepanjang rel dekat perlintasan. Antrian kendaraan macet panjang di sana. Satu mobil polisi datang dengan sirine nyaring. Dari orang lalu lalang, Neo tahu ada orang tertabrak kereta. Dua orang. Mereka berseragam SMA.
Langkah Neo tertahan. Dia mencoba memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. Rasa takut mulai menyelubunginya. Neo tidak berani meneruskan langkahnya menuju lintasan kereta api.

***

Malam itu Neo tidak bisa tidur. Dan paginya di sekolah, bendera dikibarkan setengah tiang. Melalui loud speaker di sudut-sudut gedung, kepala sekolah mengumumkan diliburkannya kegiatan sekolah sebagai tanda bela sungkawa atas meninggalnya dua murid mereka, Igor dan Erik, karena tertabrak kereta api.

Pagi berikutnya Neo datang ke sekolah dengan perasaan campur aduk. Sejak masuk gerbang dia tidak berani menengadahkan kepala. Pandangannya menumbuk tanah. Tapi dia bisa lihat beberapa anak menatapnya dengan sorot aneh saat berpapasan. Dan dia bisa lihat Ponte di sudut sana. Ponte mengamatinya dari kejauhan dengan tatapan takut sekaligus benci. Ponte terlihat berbisik-bisik dengan anak-anak di sekitarnya. Termasuk Brita dan Kristin. Lalu di sebelahnya lagi ada Miska. Miska yang sedang mengamati seorang anak yang berjalan menunduk. Dan Neo tahu Miska sedang mengamatinya. Neo melihat mata Miska seperti menyimpan pertanyaan. Cerita Ponte mungkin sudah menyebar ke seluruh sekolah. Tapi siapa yang bisa membuktikannya. Neo sendiri tak mampu mempercayainya. Apa yang terjadi akan tetap menjadi pertanyaan di sekolah ini. Sebuah pertanyaan tentang keberadaan anak aneh di tempat ini.

Saat bel pulang, Neo berusaha menghindar berpapasan dengan semua orang. Seperti biasa dia menuju toilet. Tapi tak seperti biasa, tukang kebun ada di sana. Dia sedang menyobek kertas yang tertempel di salah satu pintu toilet.

“Toilet nggak kenapa-kenapa kok ditulis rusak.” Tukang kebun itu menggerutu sembari melongok ke dalam toilet.

Neo mendengarnya saat sampai di depan toilet. Setelah tukang kebun keluar, Neo masuk ke toilet yang paling pojok. Di dalam dia hanya duduk di atas toilet. Bukan sekedar menunggu bisnya sepi. Dia memang tidak ingin bertemu dengan murid-murid sekolah ini. Walau tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, Neo tetap merasa telah membunuh dua teman sekolahnya. Tapi lebih dari apapun, dia kini tersadar siapa dirinya. Dia tidak seperti mereka yang sekolah di sini. Sendiri di toilet itu, kini dia benar-benar merasa sendiri. Dia tak berani keluar dari tempat itu. Di atas toilet dia menangis. Dia bukan sekedar pecundang, tetapi juga pembunuh.

 
 
 
Website Naskah Komik The Wolves Website Novel The Hands