Bab 1 : Ibuku Tidak Mati

Neo membuka matanya. Banyak orang mengelilinginya. Langit pagi ada di atasnya. Barusan tadi dia melihat ibunya. Ibunya di sana. Di suatu tempat. Ibunya yang dikatakan telah mati.

Neo tergeletak di trotoar. Di antara kaki-kaki bisa dia lihat kesibukan pagi di jalan. Ada anak pingsan, kata seseorang menjawab pertanyaan orang yang baru lewat situ.

Neo berusaha duduk. Seorang ibu warung membawa segelas air untuknya. Tapi Neo masih diam. Ibunya tidak mati. Neo bisa melihat ibunya di suatu tempat. Seperti selama ini sering dia lihat sesuatu yang terjadi di tempat lain.

Beberapa orang mulai meninggalkan tempat itu. Merasa buang-buang waktu melihat anak aneh yang tak mau diurus. Neo berusaha berdiri. Orang-orang di sekelilingnya sudah tidak ada. Ibu yang membawa segelas air sudah masuk warungnya lagi.

Neo harus duduk. Kakinya masih lemas. Di pembatas selokan dia coba istirahat. Seragam SMA-nya terlihat lusuh. Tasnya masih tergeletak tak jauh darinya. Hingga Neo sadar musti bergegas ke sekolah. Beberapa anak berseragam sekolah lewat jalan di depannya. Tapi pandangan Neo sejenak tertuju ke seberang jalan. Dia merasa seseorang lama berdiri di sana memperhatikannya. Di antara lalu lalang di jalan, orang itu terlihat berstelan jas rapi. Laki-laki setengah baya.

Sampai Neo memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Tapi saat Neo hendak mengambil tasnya, tiba-tiba orang berstelan jas itu sudah ada di depannya.

“Kamu anak yang istimewa. Jarang orang seperti kamu di dunia ini.” Suara orang itu pelan tapi jelas.

Neo mendongak. Tidak begitu jelas dia lihat muka orang itu karena pendar cahaya pagi di belakangnya. Sekilas wajahnya bersih, sorot matanya datar, rambutnya tersisir rapi.

“Kamu punya sesuatu yang orang lain tak punya. Seharusnya kamu belajar bersama orang-orang hebat,” kata orang itu lagi.

Neo tidak begitu mengerti yang dikatakannya. Lagi pula dia tidak mau terlambat sekolah hari ini. Tapi orang itu sudah menyodorkan selembar kertas. Mau tak mau Neo mengambil kertas itu. Sempat dia baca tulisan di atasnya : Jakarta International Paranormal Academy. Lalu Neo lipat kertas itu dan cepat dia masukkan saku celana. Tanpa permisi Neo sedikit berlari meninggalkan orang tak dikenalnya. Sekolahnya tak jauh ladi dari situ.

***

Neo berdiri dekat pagar sekolah. Badannya masih sedikit lemas. Kejadian di jalan tadi beberapa kali pernah dia alami. Dia selalu berharap tidak terjadi saat di sekolah. Tapi bukan itu yang membuat dia masih mematung di sebelah batang pohon. Karena yang ditunggunya sudah datang. Sebuah mobil sedan terparkir tak jauh darinya.

Neo mencoba konsentrasi. Karena ini yang dia lakukan tiap pagi. Melihat sesuatu di dalam mobil itu dari tempat dia berdiri. Melihat seorang perempuan berseragam SMA duduk di belakang. Karena perempuan ini tidak segera turun dari mobil. Perhatiannya masih tertuju pada buku kecil di pangkuannya. Kumpulan puisi Kahlil Gibran, Neo tahu itu. Neo menambah konsentrasinya. Dia bisa melihat bait-bait yang dibaca perempuan itu. Seolah bersama gadis itu dia baca tulisan di situ bait demi bait.

Apabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia,

Walau jalannya sukar dan curam.

Dan pabila sayapnva memelukmu menyerahlah kepadanya.

Walau pedang tersembunyi di antara ujung-ujung sayapnya bisa melukaimu.


Tiba-tiba konsentrasi Neo buyar. Dua orang siswi mendatangi mobil sedan itu.

“Miska!” Salah satu siswi memanggil perempuan yang ada di mobil sembari mengetuk kacanya.

Yang dipanggil sedikit kaget. Lalu cepat dia masukkan buku kecil yang dibacanya ke dalam tas. Seolah tak ingin temannya di luar tahu benda itu.

“Hai Brita! Hai Kristin!” Perempuan yang dipanggil Miska menyapa dan memeluk dua temannya setelah keluar dari mobil.

“Jadi kan ntar sore nyari bros buat valentine?” Tanya Brita antusias.

“Jadi dong! Kan sekalian nonton,” timpal Kristin girang.

“Pastilah! Kita janjian di kafe ya,” Miska tak kalah antusias menanggapi.

Lalu mereka bertiga berjalan ke arah gerbang sekolah tanpa berhenti ngobrol. Melewati mobil-mobil pengantar yang parkir berderet. Meninggalkan Neo yang tak beranjak dari tempatnya. Tapi hanya Miska yang jadi perhatian Neo. Neo yang tak berhenti mengamati lenggak-lenggok mereka bertiga sampai menghilang masuk gerbang. Neo bisa melihat Buku Kahlil Gibran itu masih ada di tas Miska.

Suara mesin kendaraan mengagetkan Neo. Di belakang, sebuah motor besar berhenti tak jauh darinya. Pengendaranya membuka helm. Ponte, teman sekelas Neo, masih memakai kaca mata Rayband-nya. Badannya besar dan dempal.

“Naksir ya, sama Gang Sexy? Yang mana nih, Brita, Kristin atau Miska?” Ponte nyengir sambil memainkan gas motornya.

Neo diam. Tak tahu maksud Ponte bertanya. Tapi dia tahu musti jawab apa.

“Udah, jangan kelamaan. Gebet aja pakai motor.” Ponte memakai helmnya lagi, masih nyengir sembari menjalankan motornya menuju gerbang.

Neo masih diam. Tapi lama-lama dia mengerti yang dikatakan Ponte. Karena sepeda saja dia tak punya, apalagi motor. Dan bel pun berbunyi. Neo berlari sebelum pintu gerbang ditutup.

***

Jam kedua ada ulangan kimia. Semua murid telah menghadapi kertasnya masing-masing. Beberapa terlihat mengalami kesulitan. Sebelah Neo mulai mengintip contekannya. Kertas Neo masih kosong. Dia cuma pura-pura berpikir, meletakkan tangan di dahinya. Dia tahu siapa murid paling pandai untuk tiap mata pelajaran.

Erwin si jago kimia duduk di ujung depan, tiga bangku dari Neo. Satu soal sudah dia selesaikan. Neo memejamkan mata, mencoba konsentrasi. Dari bangkunya bisa dia lihat tulisan Erwin. Neo salin persis jawaban yang ditulis Erwin. Lalu menunggu jawaban soal kedua.

Pak guru mendatangi bangku Neo. Neo berusaha terlihat sedang berpikir. Murid sebelah Neo tertangkap basah mencontek dan disuruh keluar kelas. Beberapa murid tampak tegang. Tapi yang dibutuhkan Neo cuma konsentrasi. Dia sudah menyalin jawaban soal kedua Erwin.

Hingga bel berbunyi, semua kertas dikumpulkan ke depan. Banyak wajah-wajah bingung dan pasrah. Tapi tidak buat Neo. Dia setenang Erwin. Hanya soal terakhir yang jawabannya dia bedakan dengan Erwin. Dapat nilai sedikit di bawah Erwin sudah cukup buat Neo.

***

“Taruh aja bajunya di ember!” Teriak ibu tiri Neo dari dapur. Tangannya sibuk menyalakan api di kompor minyak.

Neo meletakkan baju seragam kotornya di ember dekat sumur. Ubin semen di sekitar sumur sudah lumutan. Dua minggu lalu ayahnya menyuruh membersihkan tapi belum Neo kerjakan.

 

Oseng kangkung ada di tengah meja makan. Neo sudah menuangkan nasi ke piring. Ibu tirinya datang membawakan telur dadar yang masih panas.

“Abis makan suapin adikmu ya. Ibu mau nyuci dulu,” pinta ibu tiri Neo.

Neo mengangguk pelan, melihat ibu tirinya masuk dapur, menyiapkan makanan untuk adik tirinya.

 

Neo berusaha memasukkan sesendok bubur ke mulut adiknya. Sudah setengah jam lebih dia kewalahan menyuapi adiknya yang tak berhenti merangkak. Bibir adik Neo belepotan. Bubur di mangkuk plastik yang dipegang Neo masih setengah. Tapi saat satu sendok hendak Neo suapkan, tangannya gemetar. Neo merasa tenaga di badannya tiba-tiba hilang. Pandangannya mulai berkunang-kunang. Seperti awal kejadian tadi pagi dan yang sudah-sudah. Dalam penglihatan yang kabur Neo lihat adiknya merangkak menuju pintu keluar yang terbuka. Neo harus menyusulnya karena di teras depan ada undakan curam ke arah jalan. Tapi Neo sudah susah bergerak. Sekujur kakinya serasa kesemutan. Terakhir dia lihat mangkuk plastik jatuh bergulingan. Buburnya berceceran di lantai. Setelah itu gelap.

Lalu dia lihat ibunya lagi. Ibunya yang masih sama seperti sepuluh tahun lalu saat terakhir dia masih ada. Dia sedang berjalan di suatu tempat bersama wanita-wanita lain dengan wajah berseri. Mereka sedang bergegas melakukan sesuatu dengan gembira. Ibunya tampak bahagia. Neo ingin berteriak memanggil ibunya. Tapi tak ada suara keluar dari mulutnya. Pandangannya mulai tak jelas. Lalu kembali gelap.

 

Neo tergagap memanggil ibunya. Tapi yang di depannya kini wajah bapaknya.

“Tenang Neo! Tenang!” Bapaknya memegang pundak Neo yang sudah terbaring di kasur.

“Ibu masih hidup Pak! Dia tidak mati!” Neo berteriak ke bapaknya seperti orang gila.

“Kamu ini kenapa Neo!” Agak kesal bapaknya menenangkan Neo.

“Sudah saya bilang, ibu tidak mati! Saya melihatnya!” Teriakan Neo makin kencang.

“Tenang Neo! Jangan bertingkah seperti itu!” Suara bapaknya lebih kencang. “Kamu tahu nggak, adikmu tadi jatuh dari teras, hampir ketabrak motor!”

Sekilas Neo lihat pintu kamarnya terbuka. Di ruang makan ibu tirinya terlihat menggendong anaknya yang tak berhenti menangis. Sesekali wanita itu memandang ke arah kamar dengan muka tidak senang.

“Harusnya bapak cari ibu sampai ketemu!” Neo sedikit berbisik.

“Diam kamu Neo!” Suara bapak Neo keras tertahan. “Ini yang terakhir! Bapak tidak mau lagi kamu bertingkah seperti ini!”

Neo terdiam. Wajah ibunya masih dalam ingatannya.

“Hari ini kamu tidak boleh keluar kamar sampai magrib.” Bapak Neo terlihat menahan marah. Lalu dia menutup pintu kamar, meninggalkan Neo sendirian.

Neo memang tidak akan keluar kamar. Terkurung di kamarnya akan lebih baik karena baru kali ini dia mengalami kejadian itu dua kali dalam sehari. Neo punya kesempatan membaringkan badannya yang lemas.

 

Dalam remang kamar, Neo mencoba memejamkan mata. Tapi pikirannya selalu terjaga. Hari ini dia lihat gambar ibunya begitu jelas. Sejelas ingatannya sepuluh tahun lalu. Saat itu dini hari. Ayam masih enggan berkokok. Hujan hanya gerimis. Lalu suara-suara yang tak pernah Neo lupa. Bunyi derap kaki yang membangunkan tidurnya. Seperti banyak orang berbaris di luar rumah. Tapi saat Neo terduduk di ranjang, pandangannya justru terseret jauh dari rumahnya. Ke sungai besar yang lewat kampungnya. Gulungan arus deras di dalam gelap. Air begitu banyak menghantam batu-batu pembatas. Lalu retakan di tanggul yang kokoh itu. Yang akhirnya tak kuasa membendung semburan yang meluap. Menyapu rumah-rumah di pinggir sungai. Menenggelamkan orang-orang yang masih terlelap.

 

Neo berteriak memanggil ibunya. Menggedor pintu kamar orang tuanya. Tapi yang keluar cuma bapaknya.

“Ada apa Neo? Mana Ibu?” Tanya bapaknya.

Neo melihat ranjang orang tuanya kosong. Lalu lampu padam. Dalam hitungan detik, air deras telah memenuhi rumahnya. Neo berpegangan pada tiang, panik memanggil ibunya. Air sudah sebatas lehernya. Bapaknya berenang keluar masuk ruang-ruang yang gelap. Tapi dia tetap tidak menemukan istrinya. Air makin tinggi. Dia menyambar Neo dan berenang cepat keluar rumah menuju atap. Deru air jelas terdengar di sisa malam. Bapak Neo berdiri di atas genting. Sesekali memanggil istrinya. Neo tersimpuh kedinginan di belakang. Tapi sekuat tenaga dia kumpulkan konsentrasinya. Dia seret penglihatannya ke kegelapan-kegelapan sana. Dia lihat orang-orang tertelan arus. Dia lihat mobil digulung air hingga menghantam ranting. Lalu ada lemari terseret air. Lalu ada gerobag sampah. Ada kandang ayam. Tapi Neo tidak melihat ibunya.

***

Malam baru bergulir. Ayah Neo sibuk membolak-balik nasi di penggorengan. Bau nasi goreng mengepul memenuhi warungnya, membuat pelanggan yang menunggu bertambah lapar. Neo ada di pojok. Tugasnya mengantar minuman untuk pelanggan sudah selesai. Seperti biasa dia sempatkan memegang buku pelajaran. Tapi pikirannya tidak ke sana. Neo suka melihat isi tas pelanggan yang datang ke warung bapaknya. Kadang membuat tulisan tentang mereka. Seperti sepasang remaja yang malu-malu duduk berdampingan di meja tengah. Si cowok menyimpan majalah porno dalam tasnya. Lalu bapak-bapak yang termenung sendiri di pojok. Dia membawa buntalan plastik yang isinya lipatan kain kafan. Sesekali bapak Neo melirik anaknya. Neo pun berusaha terlihat membaca buku. Dia pegang buku soal-soal fisika. Tapi di dalamnya terselip buku kecil Kahlil Gibran.

 

Pengunjung yang tadinya ramai kini tinggal segelintir. Bapak Neo selesai mencuci piring. Dia mengambil duduk di sebelah Neo. Menghilangkan penat dengan meluruskan kaki-kakinya.

“Maafkan bapak tadi siang ya,” suara bapak Neo pelan.

Neo mengangguk, masih berpura-pura membaca buku pelajaran.

“Tidak seharusnya kamu di sini. Kamu seharusnya belajar di rumah,” tambah bapak Neo.

“Saya suka di sini pak. Saya bisa kok bantu bapak bikin nasi goreng,” jawab Neo tanpa mengalihkan pandangan ke bukunya.

Bapak Neo merengkuh anaknya.

“Kamu anak yang baik. Bapak bangga sama kamu. Selalu rangking lima besar. Bapak akan selalu berusaha supaya kamu bisa sekolah tinggi.”

Bapak Neo mengeratkan dekapannya.

“Kalau tabungan bapak sudah cukup, bapak mau ambil tempat yang lebih besar. Nanti bapak sewa orang aja buat bantuin. Biar kamu lebih giat belajarnya. Jadi orang pinter.”

Neo membalas pelukan bapaknya. Tapi Neo merasa bukan orang pinter. Dan dia tidak pernah belajar. Dia bukan seperti yang bapaknya pikirkan. Dan dia tahu ibunya tidak mati. Tapi tidak ada orang yang percaya.

 
 
 
 
Website Naskah Komik The Wolves Website Novel The Hands